Sentuhan Inovasi Antarkan Petani Sukses

Penerapan Inovasi Pertanian, terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani 
 
Inovasi, teknologi, dan kerja keras menjadi salah satu kunci keberhasilan dan kesuksesan pertanian. Kisah sukses beberapa petani di Tanah Air ini diharapkan mampu menginspirasi generasi muda agar mereka tidak alergi bekerja sebagai petani. Betapa tidak, karena dari lahan pertanian inilah, para petani sukses ini berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi, menambah lahan pertanian, memperbaiki rumah, hingga membeli mobil.
Latif, transmigran asal Ngawi, Jawa Timur adalah contohnya. Petani berusia 71 tahun ini menjadi salah satu petani sukses di Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Kawasan yang dulunya merupakan hamparan semak belukar yang didominasi pakis dan gelam, kini menjadi kawasan pertanian unggulan. Berkat keuletan dan kerja kerasnya, lahan pertanian seluas dua hektar (ha) yang ditanami padi dan jeruk, menuai hasilnya. “Kalau tidak ada inovasi dari para peneliti di Balittra, Badan Litbang Pertanian, mungkin kami sudah meninggalkan kampung ini,” kata Latif saat ditemui Majalah Sains Indonesia, baru-baru ini.
Inovasi yang diberikan peneliti Balittra cukup beragam, mulai dari varietas padi yang sesuai untuk lahan rawa, cara pemupukan, irigasi, hingga tanaman pendamping. Tak heran jika, lahan rawa yang tadinya tidak produktif, kini dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian yang produktif.
Selain ditanami padi, Latief pada 1999 mulai menanam jeruk di pematang sawah. Alhasil, tanaman jeruk justru mampu mendongkrak kehidupan petani selain padi. Dari jeruk saja, Latif mampu mendapatkan penghasilan antara Rp 50 juta – Rp 125 juta. Karena terkenal manisnya, ia tak kesulitan memasarkan jeruk siam banjarnya.
Harus diakui, inovasi teknologi pengelolaan lahan rawa telah menyulap Desa Karang Bunga menjadi pemasok beras di Kalimantan Selatan. Inovasi tersebut berupa Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Pasang Surut dengan sistem surjan dan penggunaan varietas unggul adaptif lahan rawa, yaitu Margasari dan Inpara 5.
Kisah sukses juga dialami M Syari Hasyim, anggota kelompok Tani Makmur, Desa Setiris, Kecamatan Maro Sebo, Provinsi Jambi. Kunci sukses Syari di lahan sawahnya seluas 2 ha tidak terlepas dari sistem tanam jajar legowo (jarwo), inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian.

Produktivitas Naik
Berkat sistem jarwo ini, produksi ketiga varietas padinya melebihi rata-rata nasional. Padi varietas Inpari 13 misalnya, mampu menghasilkan 7,3 ton gabah kering giling (GKG) per ha. Sedangkan varietas Inpari 12 menghasilkan 6,08 ton per ha, dan Inpara 3 sekitar 5,2 ton per ha. “Sebelumnya produksi padi rata-rata di bawah 5 ton. Namun semenjak menerapkan jarwo produktivitas naik dan keuntungannya pun bertambah,” kata Syari.
Keberhasilan Syari juga tidak terlepas dari penggunaan pupuk organik. Praktis, ia pun tidak pernah menggunakan pupuk kimia untuk sawahnya. Pupuk organik dihasilkan dari kotoran ayam pedaging yang dipeliharanya tak jauh dari sawahnya. “Setiap kali perlu pupuk tinggal ambil di kandang. Untuk sawah seluas 1 ha hanya perlu 1,5 ton pupuk organik,” ujar Syari.
Suyanto, petani penangkar padi dari Kelompok Tani Usaha Sepakat, Desa Pudak, Kecamatan Kumpe Ulu, Kabupaten Muaro Jambi, juga merasakan hal serupa. Berkat sistem jarwo, varietas Inpari 13 yang ditanamnya mampu menghasilkan 6 ton per ha. Sementara itu, beberapa petani yang tidak menerapkan sistem jarwo produksinya hanya 3-4 ton per ha.


Sumber : 
http://www.sainsindonesia.co.id/index.php/rubrik/laporan-utama/576-sentuhan-inovasi-antarkan-petani-sukses

Nama : Kartika Dwi Prasetyaningrum
NIM : 13131
Golongan : A5/3

2 komentar

Nama : Annisa Galuh Damayanti
NIM : 13494
Golongan : A5
Kelompok : 2

a. Nilai penyuluhan
• Sumber Teknologi / ide :
1. Penerapan inovasi pertanian
2. Adanya varietas padi yang sesuai untuk lahan rawa, cara pemupukan, irigasi, hingga tanaman pendamping.
3. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Pasang Surut dengan sistem surjan dan penggunaan varietas unggul adaptif lahan rawa, yaitu Margasari dan Inpara 5.
4. Sistem tanam jajar legowo (jarwo)
• Sasaran :
1. Petani di tanah air: Latif (transmigran asal Ngawi, Jawa Timur), M Syari Hasyim (anggota kelompok Tani Makmur, Desa Setiris, Kecamatan Maro Sebo, Provinsi Jambi), Suyanto (petani penangkar padi dari Kelompok Tani Usaha Sepakat, Desa Pudak, Kecamatan Kumpe Ulu, Kabupaten Muaro Jambi)
• Manfaat :
1. Para petani sukses berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi, menambah lahan pertanian, memperbaiki rumah, hingga membeli mobil
2. Mampu mendongkrak kehidupan petani selain padi
3. Mampu meningkatkan produktivitas melebihi rata rata nasional
• Nilai Pendidikan :
1. Menginspirasi generasi muda agar mereka tidak alergi bekerja sebagai petani.
2. Menginspirasi para petani untuk lebih inovatif, kerja keras untuk mencapai keberhasilan.


Nilai berita yang terkandung dalam artikel

• Timelines : Artikel ini memiliki info yang masih layak untuk didiskusikan untuk tahun ini dan beberapa tahun kedapan memajukan kesejahteraan petani dan mengubah mindset masyarakat yang memandang rendah pertanian.
• Importance : Artikel ini mengandung informasi berupa inovasi inovasi yang layak untuk diaplikasikan didunia pertanian serta sangat dibutuhkan oleh para petani yang sadar dan tertarik akan pengetahuan dan inovasi.
• Proximity : Artikel ini berkaitan erat dengan petani dibeberapa daerah di Indonesia
• Policy : Artikel ini menginformasikan acara yang diadakan oleh Badan Litbang Pertanian serta dibutuhkan oleh kepentingan para stakeholder pertanian dan merupakan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Pengaruh yang dihasilkan dari penyuluhan ini memberikan dampak positih atau menguntungkan untuk para stakeholder yang mampu menerapkan inovasi yang diberikan.
• Development : Artikel ini menunjuakan adanya pembangunan atau peningkatan mengenai keberhasilan sebuah inovasi. Seperti :
1. Kawasan yang dulunya hamparan semak belukar yang didominasi pakis dan gelam, kini menjadi kawasan pertanian unggulan
2. lahan rawa yang tadinya tidak produktif, kini dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian yang produktif
3. Sebelumnya produksi padi rata-rata di bawah 5 ton. Namun semenjak menerapkan jarwo produktivitas naik dan keuntungannya pun bertambah,dll.

• Prominence : Artikel ini menyiratkan terjadinya penyuluhan oleh Badan Litbang Pertanian yang merupakan instansi yang cukup terkemuka dan berpengaruh terhadap objek penyuluh.

• Human Interest : informasi yang diberikan dalam artikel ini memberikan ketertarikan petani dalam membaca informasi ini. Karena sangat berkaitan dengan keberlangsungannya

Reply

Prominence : Artikel ini menyiratkan terjadinya penyuluhan oleh Badan Litbang Pertanian yang merupakan instansi yang cukup terkemuka dan berpengaruh terhadap objek penyuluhan

• Human Interest : informasi yang diberikan dalam artikel ini memberikan ketertarikan petani dalam membaca informasi ini. Karena sangat berkaitan dengan keberlangsungan mata pencahariannya

Reply

Posting Komentar